Perpustakaan di Ujung Gang
Pak Slamet mulai meminjamkan buku pada hari yang sama dengan hari ia pensiun. Orang-orang di gang mengira itu hobi orang tua — mengisi waktu supaya tidak mati lebih cepat dari seharusnya.
Ia tidak memasang papan nama. Tidak ada jam buka resmi. Yang ada hanya pintu yang selalu tidak dikunci sejak pukul tujuh pagi, dan satu rak kayu di teras yang penuh buku dengan catatan tempel warna-warni.
Pembaca pertamanya adalah Rini, dua belas tahun, yang butuh buku untuk tugas sekolah dan tidak punya uang untuk fotokopi. Pak Slamet memberinya tiga buku sekaligus. Pilih yang paling kamu suka. Sisanya untuk besok.
Pembaca keduanya adalah Mbok Yem, penjual sayur, yang minta buku resep. Pak Slamet tidak punya buku resep. Ia memberikan Masakan Nusantara Rumahan yang sudah lapuk. Mbok Yem membawanya, dan dua minggu kemudian kembali dengan toples berisi tempe mendoan. Makasih, Pak. Resepnya beda tapi lebih enak.
Bulan ketiga, ada yang bertanya: Apa untungnya buat Bapak?
Pak Slamet berpikir sejenak. Saya jadi tahu siapa tetangga saya, katanya. Selama tiga puluh tahun kerja, saya tidak pernah tahu siapa yang tinggal di ujung gang.
Buku-buku itu kadang tidak kembali. Pak Slamet tidak pernah menagih. Ia percaya bahwa buku yang hilang pasti sedang dibaca oleh seseorang yang lebih butuh darinya.
Dan kalau tidak — ya sudahlah. Buku bukan perhiasan. Buku untuk dipakai.