Tentang Kami

Sekutu Buku

Banjarnegara, Jawa Tengah · Est. 2018

Sekutu Buku lahir dari kegelisahan: bahwa membaca terlalu sering dijual sebagai gaya hidup, bukan sebagai tindakan. Kami adalah sekumpulan orang di Banjarnegara yang percaya bahwa teks bukan sekadar hiburan — ia adalah medan pertarungan gagasan, dan setiap pembaca harus memilih di mana ia berdiri.

Kami bertemu rutin — di kedai, di pinggir jalan, di perpustakaan komunitas — mendiskusikan buku-buku yang menantang, puisi yang tidak ramah, cerita-cerita yang tidak nyaman. Kami percaya bahwa literasi yang baik bukan yang membuat pembacanya merasa aman, melainkan yang membuatnya tidak bisa diam.

Komunitas ini terbuka untuk siapa saja yang mau serius. Bukan soal latar belakang akademik, bukan soal jumlah buku yang sudah dibaca. Yang penting: kamu datang, kamu baca, kamu bicara — dan kamu bersedia dipertanyakan.

Kami mengelola ruang baca di Sekutu Buku HQ — koleksi buku yang bisa dipinjam oleh siapa saja, gratis, tanpa kartu anggota, tanpa birokrasi. Kami juga mengadakan diskusi publik, zine workshop, dan sesekali menggelar pembacaan puisi di ruang-ruang yang tidak biasanya menjadi panggung sastra.

01

Diskusi Buku Rutin

Setiap dua minggu sekali, berbeda tempat, berbeda buku.

02

Ruang Baca Terbuka

Koleksi 400+ buku yang bisa dipinjam bebas.

03

Zine & Penerbitan

Workshop cetak manual dan distribusi lokal.

04

Pembacaan Puisi

Di warung, di jalan, di mana pun orang mau dengar.

Manifesto

Membaca sebagai Keberpihakan

Membaca adalah tindakan politik. Setiap kali kamu membuka buku, kamu memilih sudut pandang mana yang akan kamu duduki, walaupun hanya sementara. Kamu memutuskan untuk tinggal di dalam kepala orang lain — dan pilihan itu tidak pernah netral.

Kami muak dengan narasi bahwa membaca adalah aktivitas individual yang murni — pelarian dari dunia, jendela ke imajinasi, terapi jiwa yang lelah. Bukan bahwa itu salah. Tapi itu tidak cukup. Ketika kita bicara tentang literasi sebagai "kebiasaan baik" tanpa mempertanyakan buku apa, ditulis oleh siapa, untuk kepentingan siapa — kita sedang memproduksi pembaca yang patuh, bukan pembaca yang berpikir.

"Membaca tanpa berpihak bukan literasi. Itu hiburan."

Keberpihakan bukan berarti kamu harus setuju dengan semua yang kamu baca. Justru sebaliknya: keberpihakan adalah kapasitas untuk berselisih — dengan teks, dengan penulis, dengan tradisi yang melahirkan teks itu. Pembaca yang berpihak adalah pembaca yang tidak bisa dibohongi hanya karena kalimatnya indah.

Sekutu Buku dibangun di atas keyakinan sederhana ini: bahwa komunitas literasi seharusnya menjadi tempat di mana gagasan-gagasan bertabrakan, bukan tempat di mana kita saling mengagumi selera masing-masing. Bahwa diskusi buku yang baik adalah yang membuat pesertanya pulang dengan pertanyaan baru, bukan jawaban lama yang dipoles.

Kami tidak tertarik pada "budaya baca" sebagai komoditas. Kami tidak menjual estetika membaca — foto buku di kafe dengan filter yang hangat, daftar bacaan yang mengesankan, tanda-tanda bahwa kamu adalah orang yang terpelajar. Yang kami tawarkan jauh lebih tidak nyaman dari itu: percakapan yang jujur tentang apa yang kamu baca dan apa yang kamu pikir tentangnya.

Datanglah kalau kamu mau ribut soal gagasan. Tinggalah kalau kamu belum bisa menjawab pertanyaanmu sendiri. Pergilah kalau kamu sudah punya alasan baru untuk kembali.

Itu sudah cukup bagi kami.

— Sekutu Buku, Banjarnegara, 2018