Yang Tidak Diajarkan di Sekolah
Bu Hartini tahu persis kapan ia mulai lelah: ketika ia sadar bahwa ia sudah hafal jawaban benar untuk setiap soal ujian nasional, tapi tidak bisa menjawab mengapa anak-anaknya harus belajar hal-hal itu.
Ia sudah mengajar dua puluh dua tahun. Cukup lama untuk tahu bahwa kurikulum berubah setiap pergantian menteri, tapi yang tidak berubah adalah caranya: guru bicara, murid mendengar, ujian menilai.
Suatu hari di kelas tiga, seorang murid bernama Dimas bertanya: Bu, kenapa kita harus tahu ini kalau nanti bisa Google?
Bu Hartini sudah siap dengan jawaban standar tentang dasar pengetahuan dan disiplin mental. Tapi mulutnya tidak bergerak.
Karena ia tahu Dimas benar. Dan itu justru masalahnya.
Yang tidak bisa di-Google adalah cara memilih pertanyaan yang tepat. Cara mempertanyakan jawaban yang sudah ada. Cara tidak percaya begitu saja pada yang tertulis — termasuk yang tertulis dalam buku pelajaran.
Ini yang ingin ia ajarkan. Tapi tidak ada modul untuknya. Tidak ada soal ujiannya. Dan tidak ada nilai untuk murid yang pandai bertanya tapi salah menjawab.
Bu Hartini tidak menemukan solusi. Ia terus mengajar — dengan sedikit lebih banyak jeda setelah muridnya bertanya, sedikit lebih lama menunggu sebelum memberi jawaban.
Mungkin itu cukup. Mungkin tidak. Tapi setidaknya, di ruang kelasnya, ada seseorang yang masih mau tidak tahu.