Kelas Menengah
Kamu tidak miskin, katamu, sambil menghitung sisa bulan dengan jari yang sudah belajar lipat tangan sebelum mulut bisa protes.
Kamu bukan pekerja kasar, katamu, padahal punggungmu hafal kursi kantor seperti punggung orang lain hafal cangkul — sama lelahnya, beda posturnya.
Di antara dua kelas kamu berdiri dengan dasi longgar dan sepatu yang baru dicicil, menyebut dirimu profesional supaya tidak perlu menyebut dirimu rentan.
Hari ini upahmu naik. Besok harga naik lebih tinggi. Kamu tetap di tempat yang sama tapi dengan alasan baru untuk tidak bergerak.
Itulah fungsimu, sayang — penyangga di antara yang punya segalanya dan yang tidak punya apa-apa. Cukup nyaman untuk tidak bergabung, terlalu takut untuk berpihak.